Categories
My Blog

Saat Ayam Tersandung Jagung

Januari hingga April lalu peternak layer pontang-panting. Mereka pusing tujuh keliling lantaran harga jagung tinggi, berkisar Rp4.000/kg sedangkan harga telur rendah, menyentuh Rp13 ribu/kg. Saat itu pemerintah belum menetapkan harga acuan telur. Harga acuan telur sebesar Rp18 ribu/kg baru ditetapkan Kementerian Perdagangan pada 5 Mei 2017.

Selain tinggi, ketersediaan jagung lokal juga di – ragukan. Menurut Musbar, Presiden Forum Peter – nak Layer Nasional, sejak impor jagung ditutup pada Juli 2015, terjadi kompetisi perebutan jagung lokal antara peternak layer dan pengusaha pakan ternak di lapang. “Suara-suara yang menggema ke ma na-mana : akan ada panen raya. Ke mana per gi – nya jagung? Jagung kita (lokal) nggak pernah sam – pai ke tangan peternak. Jagung yang sampai ke kita dari Bulog (impor),” tandasnya.

Tri Hardiyanto, Dewan Pembina Gabungan Or – gani sasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN) membe – narkan kondisi itu. “Tahun 2015 saya gampang beli jagung. Harga saya pasti lebih mahal dari Japfa dan Phokpan (pabrik pakan). Setelah 2016 saya sama se kali nggak bisa dapat jagung. Tahun 2016 sampai se karang, saya berhenti, nggak nggiling (jagung) la gi,” ungkapnya. Ia pun mengandalkan peran Bu – log untuk menyediakan jagung bagi peternak kecil.

Mencari di Daerah

Untuk memenuhi kebutuhan jagung yang men – desak, Djarot Kusumayakti, Dirut Bulog meminta peternak dan Bulog bersama-sama mencari jagung lokal yang tersedia di lapang. “Kalau peternak rak – yat punya info jagung lokal yang sesuai, tunjukkan. Bulog yang beli,” tandasnya pada Audiensi Keter – sediaan Jagung antara Bulog dengan Peternak layer di Jakarta Juni lalu.

Djarot pun menyarankan peternak agar mengkonfirmasi keberadaan jagung lokal pada kementerian terkait jika tidak ditemukan di lapang. “Jika solusinya harus beli dari luar negeri, saya siap mengimporkan dan menyebarkan,” katanya sambil menambahkan kewenangan keputusan importasi jagung bukan berada di tangan Bulog.

Di sisi lain, Febriyanto, Direktur Komersial Bulog mengatakan, belum ada aturan teknis terkait tugas Bulog menyerap jagung. Pihaknya pun terpaksa membeli jagung dengan dana komersial dan dikena – kan bunga komersial. “Ini dilema buat Bulog. Aturan teknis dari Kementerian Pertanian. Bila jagung impor, pada akhirnya risiko ada di Bulog,” jelasnya. Selain itu, Bulog menghadapi kendala infrastruktur berupa ketiadaan silo. Untuk mengurangi risiko kerugian, Bulog harus segera menjual jagung yang diimpor.

Penyakit 90-40-60 Musbar menjelaskan, kekurangan jagung ti – dak hanya mengakibatkan kenaikan biaya pro – duksi tetapi juga menyebabkan ayam layer menderita penyakit 90-40-60. Yakni, produktivi – tas ayam petelur dari yang mulanya 90% menurun hingga 40%. Produktivitas ini bisa naik kembali namun hanya mencapai 60%.

Saat harga jagung tinggi, ulas Wakil Ketua Komisi Te tap Industri Pakan dan Veteriner Kamar Dagang dan Industri Indonesia itu, peternak layer mencampur bahan baku pakan dengan dedak dan bungkil kelapa sawit. “Tapi nggak nolong. Produksinya malah kacau-balau. Yang terjadi saat ini penyakit 90-40-60. Maskimal produksi cuma bisa 60%,” ungkapnya.

Sementara, mengganti bahan baku pakan dari ja – gung menjadi gandum, seperti pada pakan ayam broiler, juga belum memungkinkan. “Nggak bisa pa – kai gandum. Harus ada biaya tambahan enzim, feed additive (imbuhan pakan). Kalau harga bagus ya nggak masalah tapi kalau harga telurnya tinggal Rp15 ribu/kg ya mending kita jual ayam,” papar dia.

Musbar menambahkan, jumlah ayam layer nasio – nal sekitar 148 juta ekor dengan produksi telur mencapai 7.400 ton/hari. Mayoritas telur dipasarkan ke DKI Jakarta dan Bandung, Jawa Barat. Sedangkan ke butuhan telur untuk Indonesia timur sudah terpenuhi dari produksi lokal.