Kuota KUR Tani Naik, Siapa Mau?

Kuota KUR Tani Naik, Siapa Mau?

Salah satu kendala klasik yang acapkali dikemukakan para pelaku usaha skala mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dalam mengembangkan bisnis mereka adalah ketiadaan modal. Padahal sejak 2007 pemerintah memberikan kesempatan memperoleh tambahan modal kerja dan investasi melalui pembiayaan Kredit Usaha Rakyat (KUR), yang sejak Januari 2016, bunganya turun dari 12% menjadi 9%. Penyaluran nya melalui 33 bank dan koperasi. Pada 2016, pemerintah mengalokasikan kuota KUR Rp100 triliun. Sampai akhir Desember lalu, kredit yang terserap 94,4%. Bank BRI termasuk yang paling besar realisasi pengucuran KUR-nya.

Menurut Sony Harsono, Executive Vice President Micro Business Strategic Policy PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. dalam surelnya, “Selama 2016 BRI telah menyalurkan KUR dengan total plafon Rp69,45 triliun atau 91,1% dari total penyaluran KUR secara nasional.” KUR tersebut mengucur kepada 3,9 juta debitur pelaku UMKM dengan usaha produktif dan layak serta calon Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang akan berangkat ke luar negeri. KUR disalurkan ke hampir seluruh usaha produktif segmen mikro, seperti pertanian, perikanan, industri pengolah an, perdagangan, dan jasa. “Porsi penya lur an untuk bidang pertanian (khususnya on farm) mencapai 24%. Pelaku usaha pertanian yang terbanyak memperoleh KUR adalah usaha pertanian tanaman pangan,” imbuh Sony.

Tips

Kendati meraih posisi penyalur terbanyak, bukan berarti BRI tidak menghadapi kendala di lapangan, khususnya di subsektor tanaman pangan. Sony menyebut satu di antaranya, yaitu minimnya ratarata luasan kepemilikan lahan pertanian, yang rata-rata di bawah 0,2 ha, sehingga tidak layak untuk diberikan kredit, baik dari sisi calon debitur maupun bank. Untuk meminimalkan risiko kredit, petani dianjurkan membentuk kelompok tani. Salah satu debitur BRI adalah kelompok tani padi Liman Tani Jaya di Pama nukan, Subang, Jabar. Menurut Yoyo Suparyo, sesepuh kelompok tani itu, banyak anggota kelompoknya yang memperoleh kucuran KUR dari bank pelat merah tersebut sejak Juni 2016. “Yang dapat KUR Tani itu lahannya maksimal dua hektar dan jumlah kreditnya maksimal Rp25 juta per orang,” ungkapnya.

Ia sendiri berperan sebagai pemberi rekomendasi ke BRI tentang kelayakan anggota kelompoknya untuk diberi kredit. Dengan demikian kasus kredit macet bisa dihindari. Dan sejauh ini, kata Yoyo, ti dak ada kredit yang tak terbayar di kelom poknya. Sementara itu Irwi Indiastuti Tjahjani, konsultan perbankan yang juga pernah menjadi komisaris salah satu bank swasta di Jakarta, menyatakan, dengan menambah modal kerja atau investasi melalui kredit, petani atau pelaku agribisnis lainnya bisa meningkatkan skala usaha. “Jadi diharapkan marginnya juga bertambah,” ujar Yani, sapaannya. Kunci suatu usaha mendapat kucuran kredit, sambung Yani, adalah telah menjalankan usahanya paling tidak dua tahun, margin minimal 20% satu siklus, para pelaku berkelompok bila tidak mengantongi agunan tambahan, dan memiliki pembukuan rapi yang menggambarkan kemampuan pembayaran kredit.

Penyaluran ke Sektor Produksi Naik

Tahun ini total kuota KUR dari pemerintah naik 10% menjadi Rp110 triliun. Dari angka itu, Sony menuturkan, BRI memperoleh kuota Rp71,2 triliun yang ter diri dari KUR Mikro (plafon maksimal Rp25 juta) Rp61,5 triliun, KUR Ritel (plafon Rp25 juta – Rp500 juta) Rp9,5 triliun, dan KUR TKI (plafon maksimal Rp25 juta) Rp0,2 triliun. “Untuk target penyaluran KUR khusus sektor produksi (pertanian, perikanan, industri pengolahan) 2017, BRI telah menetapkan target internal dan fokus penya luran pada sektor produksi sebesar 40% dari total kuota KUR,” ulasnya. Untuk mencapai target tersebut, BRI telah mempersiapkan dan menyediakan infrastruktur pendukung berupa tenaga pemasar khusus KUR 11.514 orang yang akan melayani calon debitur KUR melalui 462 Kantor Cabang, 609 Kantor Cabang Pembantu, 5.360 BRI Unit, 2.545 Teras BRI, 635 Teras Keliling, 3 Teras Kapal dan referal Agen Lakupandai BRILink sebanyak 84.550 agen,” papar Sony.