Kiat Sukses Produksi Susu Premium

Kiat Sukses Produksi Susu Premium

Saat kebanyakan peternak sapi perah hanya memproduksi susu sekitar 11- 12 liter/ekor/hari, ada peternak yang mampu menghasilkan susu 16-20 lt/ekor/ hari. Produksi melimpah dan kualitas terjaga. Apa resep mereka agar beroleh susu berkualitas premium?

Riwayat dan Kebutuhan

Adalah Septian Jasiah Wijaya, peternak sapi perah di Babakan Madang, Bogor, Jawa Barat (Jabar) yang memproduksi susu sebanyak 16-17 lt/ekor/hari. Awalnya produksi Tian, sapaannya, sekitar 4-7 lt/ekor/ hari. “Dulu dapat 7 liter itu sudah seneng banget,” ujarnya.

Peserta pelatihan ternak sapi perah ‘Fonterra Dairy Scholarship 2016’ ini menuturkan pentingnya mencatat data riwayat sapi, seperti silsilah keluarga, produksi susu, kebutuhan pakan, dan biaya operasional. “Peternak itu nggak melihat sapinya nggak produktif bertahun-tahun karena masih keluar susu. Padahal kalau dihitung costnya sudah minus,” ungkap dia. Data itu menunjukkan sapi yang produktif menghasilkan susu dan tidak.

Setelah mengikuti pelatihan, Tian fokus mengurangi populasi sapi. “Sapi yang tidak produktif dilihat dari produksi susu, bobot badan. Saya treatment dulu satu ekor. Kira-kira nggak bisa diperbaiki, kita jual,” katanya kepada AGRINA. Karena itu, ia merasionalisasi dari 130 ekor sapi perah menjadi 49 ekor untuk efisiensi pengelolaan.

Di Parompong, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jabar, Fani M. Zaelani sebelumnya memproduksi susu sapi sebanyak 18 lt/ekor/hari. Berkat memberi perhatian yang cukup pada sapi, peserta FDS 2016 ini bisa menaikkan produksi jadi 20 lt/ekor/hari. Caranya menggunakan genetik yang bagus dan memenuhi kebutuhan nutrisi dengan pakan berkualitas sejak sapi dilahirkan, disapih, hingga dewasa.

“Kebanyakan orang ngurusnya asal- asalan yang penting dikasih pakan. Walaupun genetiknya bagus, itu nggak berubah jadi susu. Kita cukupi kebutuhan energi, protein, dan serat dasarnya,” katanya.

Denny Mahakara mulanya menghasilkan susu 15-16 lt/ekor/hari. Selain memperbaiki manajemen pakan dan air, peserta FDS 2014 ini juga melakukan manajemen stok sehingga bisa memproduksi susu kualitas premium sebesar 18- 19 lt/ekor/hari. Peternak dari Pojok, Lembang, Bandung Barat ini menggunakan bibit hasil rearing (pembesaran) sendiri. Sebelumnya Denny mengandalkan pembelian pedet.

Menurut Denny, rearing penting untuk beroleh bakalan yang terjaga kualitas dan asal-usulnya. Kepastian genetik bakalan dengan potensi produksi yang tinggi juga lebih terjamin. Ia pun memproduksi bakalan dari pembesaran sendiri minimal 8 ekor per tahun.

Di lokasi yang sama, Siti Anisyah, peserta program Farmer2Farmer 2016 mengatakan rata-rata produksi susunya 16 lt/ekor/hari. Melalui manajemen pakan yang baik, kualitas susu yang dihasilkan lebih tinggi. Sehingga meski produksinya sama, pendapatan yang diterima lebih banyak. “Produksi hampir sama cuma kualitas sama duit yang masuk ke kantong lebih banyak. Sekarang pengeluaran lebih sedikit. Duit lebih banyak masuk,” papar Siti.

Genetik

Menurut Irmansah, Operational Manager MSU PT Greenfields Indonesia, beberapa faktor yang mempengaruhi tinggi rendahnya produktivitas susu sapi, yaitu genetik, manajemen pakan dan air, serta kenyamanan sapi. Genetik sapi di peternakan rakyat terbilang rendah sehingga produksi susu berkisar 10-15 lt/hari. Sementara peternakan modern seperti Greenfields, rerata produksi mencapai 33 lt/ekor/hari karena genetiknya unggul.

Genetik yang bagus bisa diperoleh melalui inseminasi induk betina menggunakan sperma pejantan dengan kualitas susu yang lebih tinggi. “Cari semen atau sperma sapi pejantan yang kualitasnya bagus sehingga menghasilkan anakan dengan genetik lebih tinggi,” jelas Irman sambil menyebut Balai Inseminasi Buatan Singosari Malang menyediakan sperma sapi pejantan kualitas tinggi.

Kokot Februhadi, Livestock Technical Manager Neovia Indonesia menjelaskan, potensi produksi sapi Friesian Holstein (FH) yang banyak diternakkan di Indonesia sebenarnya sangat tinggi, mencapai 40-50 lt/ekor/hari. Tinggal bagaimana cara peternak memenuhi kebutuhan nutrisi sapi agar menghasilkan susu sesuai potensi produksinya.

Manajemen reproduksi, lanjutnya, berkaitan erat terhadap produksi susu. Manajemen reproduksi meliputi kemampuan sapi untuk beranak dan menjaga pedet dari kecil sampai berproduksi. Peternak harus memperhatikan dan memastikan keluarnya tanda-tanda sapi birahi. Sebab, sapi tidak akan menghasilkan susu jika tidak kawin kemudian beranak dan menyusui.

Kokot menerangkan, peternak bisa melewatkan masa sapi birahi karena tidak awas atau tanda berahi, seperti sapi gelisah dan organ reproduksinya bengkak, berwarna kemerahan, hangat, serta mengeluarkan lendir, tidak muncul. “Tidak terlihat tanda-tanda berahi karena hormonalnya tidak optimal sebab pakan tidak cukup,” imbuhnya.

Pakan dan Air

Pakan sapi, ucap Irman, harus cukup dari sisi nutrisi dan jumlah. Nutrisi pakan men-akup protein 16%-18%, energi 70%, serat 60%-65%, vitamin, dan mineral. Kandungan pakan wajib 100% dari sumber nabati. Misalnya, bungkil kedelai, kopra, ampas minyak jagung, ampas tahu, ampas gandum, dan pollard sebagai sumber protein; jagung, gaplek, onggok, dan tetes limbah gula sebagai sumber energi; rumput, tebon jagung, hay, dan silase sebagai sumber serat. “Energi akan menstimulasi tingg rendahnya produktivitas susu. Semakin tinggi kandungan energi pakan, semakin tinggi produktivitas susu,” urainya.

Kebutuhan pakan untuk sapi sebanyak 40-45 kg/ekor/hari atau sekitar 10% bobot tubuh. Namun, Timothe Jany menganjurkan pemberian pakan adlibitum (sekenyangnya) agar kebutuhan serat mencukupi. Ruminant Technical Support Neovia Indonesia itu juga meminta peternak memperhatikan kualitas pakan, yaitu kualitas serat dan pengendalian mikotoksin.

Kebutuhan nutrisi harian dipenuhi dari pakan hijauan dan konsentrat. Kombinasi pakan ini, ungkap Jany, menyediakan nu- trisi seimbang dan menutupi kekurangan nutrisi, seperti protein dari pakan hijauan. Pakan konsentrat juga cepat dicerna sehingga nutrisi yang terserap lebih banyak. “Konsentrat menyediakan nutrisi yang lebih akurat dengan keseimbangan vitamin dan mineral,” tukasnya.

Sementara, air juga harus selalu tersedia di kandang. Kebutuhan air lebih besar selama musim kemarau. “Sapi akan makan sedikit jika suplai air terbatas. Sediakan air bersih dan segar untuk menghindari masalah dalam produksi,” saran Jany. Sedangkan pada musim hujan, sapi menghadapi beberapa kendala karena kelembapan. Upayakan pakan selalu dalam kondisi kering.