Emas Cair Bakal Lebih Kinclong

Emas Cair Bakal Lebih Kinclong

Di dunia, ada empat jenis minyak nabati yang menguasai pasar, yaitu minyak sawit sebesar 40%, minyak kedelai 33%, minyak rapeseed 17%, dan minyak bunga matahari 10%. Tungkot Sipayung, Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI) mengatakan pencapaian ini merupakan perjuangan besar Indonesia dan Malaysia hingga minyak sawit bisa mengalahkan minyak kedelai. Sejak 2005-2006, lanjut Tung kot, Indonesia sudah me lam paui Malaysia menjadi produsen “emas cair” terbesar. “Jadi orang Indonesia boleh bangga dan sudah harus sadar kalau kita adalah produsen minyak sawit dunia ter besar,” ungkap doktor bidang Ilmu Ekonomi Per tanian dari Institut Pertanian Bogor (IPB) ini di Seminar Nasional AGRINA Agribusiness Outlook 2017 dengan te ma “Tantangan dan Peluang Agribisnis 2017” di Jakarta (15/12).

Minyak Sawit Indonesia

Industri minyak sawit di Indonesia merupakan penyumbang devisa terbesar dari sektor pertanian. Menurut Tungkot, ekspor minyak sawit ini sudah mengalahkan sektor Minyak dan Gas (Migas). “Kalau tidak ada ekspor minyak sawit, maka netto ekspor Indonesia selalu defisit sejak 2012. Boleh dikatakan lima tahun terakhir ini ekspor minyak sawit penyelamat neraca perdagangan Indonesia,” papar dosen yang rutin mengikuti seminar internasional tahunan: Indonesian Palm Oil Conference dan Malaysian Palm Oil Conference ini. Untuk pasar CPO dan olahan minyak sawit, Indonesia konsisten mengekspor ke India, Eropa, Tiongkok, Pakistan, Bangladesh, dan mulai ke Amerika.

Berdasarkan data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), volume ekspor olahan (turunan) minyak sawit Indonesia pada 2015 sebesar 18,53 juta ton. Nilai ini terus meningkat dari volume 2014 sebesar 15,98 juta ton dan 2013 sebesar 14,64 juta ton. Begitu pula volume ekspor CPO 2015 tercatat 7,87 juta ton, lebih besar dari 2014 sebesar 5,78 juta ton dan 2013 sebesar 6,58 juta ton. Masih bersumber dari data GAPKI, Tungkot memaparkan nilai ekspor minyak sawit Indonesia pada 2015 sebesar US$18,6 miliar. Pada 2014, tercatat nilai ekspornya sebesar US$21,1 miliar dan US$19,2 miliar pada 2013.

Prospek 2017

Meski dibayang-bayangi berbagai risiko, kata Tungkot, pertumbuhan ekonomi dunia 2017 lebih baik daripada 2016. Karena itu, “Boleh kita berharap pasar dunia lebih kondusif di masa datang meskipun banyak potensi yang mungkin menyeret ekonomi dunia lebih buruk,” terang pria yang pernah menjadi Ketua Advokasi dan Kebijakan Persawitan GAPKI periode 2011-2014 ini. Dari sisi produksi, baik GAPKI, Dorab Mistry (Godrej International Limited), PASPI, maupun tren historis memproyeksikan, produksi minyak sawit Indonesia akan meningkat pada 2017.

GAPKI yang mengestimasi produksi minyak sawit 2016 sebesar 28,5 juta-30 juta ton, pada 2017 memproyeksikan peningkatan menjadi 32 juta-33 juta ton. Dorab Mistry memprediksi produksi Indonesia 2017 sekitar 33 juta-33,5 juta ton. Sedangkan perkiraan PASPI dan tren historis menghasilkan angka 31,9 juta ton dan 37,96 juta ton. Sementara dari segi harga, terang Tungkot, harga minyak sawit mentah (CPO) 2017 diperkirakan akan lebih baik dari 2016. “Harga CPO 2016 sedang mengalami bottoming out (merangkak naik) setelah turun terus sejak 2011 sehingga tahun depan harga diperkirakan lebih baik,” terang dosen Pascasarjana Ilmu Ekonomi Universitas Trisakti Jakarta ini. PASPI mengestimasi harga CPO CIF berkisar US$680-730/ton atau rata-rata US$715/ton.